Nah! sebelum nonton filmnya lebih bagus baca bukunya dulu biar lebih dapet feel nya nanti kalo nonton film. mumpung filmnya belom tayang buruan baca, soalnya denger denger pemutarannya dimajukan yang awalnya tahun depan jadi bulan depan, jadi baca baca balah.
Judul : 99 Cahaya di Langit Eropa
Penulis : Hanum Salsabiela Rais
Desain & cover isi : Suprianto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : 2012 (Cet. 10)
Tebal : 412 hlm.
ISBN : 978-979-22-7274-1
“Kalaupun seandainya Tuhan itu tidak ada, kita tetap
harus mencari-Nya.” (hlm. 138)
Misi kita adalah menjadi agen Islam yang damai, teduh,
indah, yang membawa keberkahan di komunitas nonmuslim. Suatu saat kau akan
banyak belajar bagaimana bersikap di negeri tempat kau harus menjadi minoritas.
(hlm. 47)
Menjadi agen muslim yang baik di Eropa. Agen muslim
yang menebar kebaikan. Bawalah nama baik Islam. Jangan sampai memalukan ataua
malah mencemarkan. (hlm. 54)
Adalah Hanum Salsabiela Rais bersama suaminya, Rangga
Almahendra yang menorehkan pengalaman hidupnya saat tinggal di Eropa selama 3tahun
menjadi arena menjelajahi Eropa dan segala isinya. Pengalaman yang makin
memperkaya dimensi spiritual untuk lebih mengenal Islam dengan cara yang
berbeda.
Di sini, kita tidak menemukan penjelajahan di Menara
Eiffel, Tembok Berlin, Konser Mozart, Stadion Sepak Bola San Siro, Colosseum
Roma, atau gondola-gondola di Venezia. Lebih dari sekedar itu. Kita dibuat
takjub dengan penjabaran deskripsi lengkap tempat-tempat yang jarang terekspos
malah menyimpan makna sejarah yang mendalam.
Beberapa tempat yang dikunjungi Hanum bahkan kerap
menambah pengetahuan kita tentang nilai sejarah Islam. Beberapa diantaranya:
Schatzkammer,
Museum Harta Kerajaan di kompleks Istana Hofburg Wina, tempat mantel Raja Roger
II yang berkaligrafi Arab disimpan. Beliau seorang raja di Eropa memakai
mantel bertuliskan kaligrafi Arab pada hari pengangkatannya sebagai raja.
Kalimat Tauhid juga bertahta di pinggir mantel bordirnya. Dia memang memesannya
dari seorang muslim Arab. Konon, si raja memang menyukai budaya Arab, terutama
kaligrafinya. Hingga kini mantel itu masih tersimpan rapi. Berwarna merah
menyala, mantel ini terbuat dari beludru sutra berkualitas. Bordiran benang
emas menghiasi sekujur mantel itu.
Quadriga Arc de Triomphe du Carrousel berlatar
belakang horizon garis lurus Axe Historique yang membelah kota Paris. Marion
mengatakan, Napoleon membuat garis imajiner ini sepulangnya dari ekspedisi
Mesir, searah kiblat. Tidak penting apakah Napoleon muslim atau bukan.
Kenyataan, pada suatu masa dia telah memberi ruang yang lebar bagi nilai-nilai
Islam, baik untuk negara maupun dirinya sendiri.
Di Hagia Sophia Instanbul, ada medallion
raksasa bertuliskan Allah dan Muhammad, mengapit gambar Bunda Maria yang tengah
memangku bayi Yesus.
Le Grande Mosquee de Paris,
Masjid Agung Paris di pusat kota Paris. Masjid ini pernah meyelamatkan puluhan
waga Yahudi dari kejaran tentara Nazi Jerman.
“Ada sebuah mata rantai yang putus antara peradaban
kuno Yunani dan Romawi dengan peradaban Eropa Renaissance.”
Rasa syukur yang lebih dalam lagi karena dilahirkan
sebagai orang Indonesia yang tak memiliki trauma sejarah dengan hegemoni agama,
dan berharap tidak akan pernah ada sampai kapan pun. Islam yang awet, yang
abadi dalam diri setiap orang, adalah Islam yang datang dengan cara damai.
Selain mengunjungi tempat-tempat menakjubkan yang
memiliki makna sejarah bagi dunia Islam, Hanum juga sempat berkenalan dengan
beberapa sahabat muslim dari belahan negara lain.
Beberapa sahabat yang ditemui Hanum dan memberikan banyakpencerahan
hidup:
Fatma, potret seorang imigran Turki di Austria. Pada
usia produktif 29 tahun, dia jatuh bangun mengirim puluhan surat lamaran
pekerjaan.
Natalie Deewan, seorang agen muslim sejati. Dia
mempromosikan ajaran Islam tentang ikhlas bukan dengan ucapan yang hanya
berhenti di mulut. Dia menggelarnya menjadi sebuah kedai makanan sumber
kerelaan antara penjual dan pembeli.
Aku bisa menganalogikan semua ibadah yang kulakukan
sebagai premi yang harus kubayarkan kepada Tuhan. Agar aku merasa tenang dan
damai.
Sejauh-jauhnya orang terhadap agama, pada akhirnya dia
tak akan sanggup menjauhkan Tuhan dari hatinya. Meski pikiran dan mulutnya bisa
mengingkari-Nya, ruh dan sanubari manusia tidak akan pernah sanggup berbohong.
(hlm. 137)
Fanatisme agama dengan segala bentuknya merupakan
sumber segala perselisihan, musuh bersama umat manusia. (hlm. 137)
Dari cerita perjalanan yang dialami Hanum dan suaminya
ini, kita bisa merasakan bahwa masih sedikit sekali kita membuka mata untuk
melihat dunia dan segala isinya. Bagaimana perjalanan tersebut harus bisa
membawa pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan
sekaligus memperdalam keimanan. Sungguh berbeda dibandingkan buku traveling
pada umumnya.
Banyak bertebaran kalimat favorit:
Hidup ini hanyalah sebuah giliran. Dan saat kita
mendapatkan giliran itulah kita harus mempergunakannya sebaik-baiknya. (hlm.
316)
Kita lupa berapapun kita menyayangi mereka, mereka
bukanlah milik kita seutuhnya. Demikian pula kita, bukan milik kita seutuhnya.
Menyadari kembali bahwa perpisahan pasti akan datang menghampiri seharusnya
menjadi pelecut untuk memberikan yang terbaik kepada mereka yang kita sayangi
di dunia ini. (hlm. 321)
Manusia sesungguhnya hanya membela kepentingannya
sendiri. Dia tak pernah benar-benar membela agamanya. (hlm. 336)
Aku ingin mereka lahir sebagai muslim karena mereka
memahami, meresapi, mengenal, menyentuh, merasakan, dan mencintai Islam, bukan
karena paksaan orang lain. (hlm. 368)
Jika kita semua sama, tidak ada lagi keindahan hidup
bagi manusia. Jadi, nikmatilah perbedaan itu. (hlm. 368)
Sumber kebenaran dan rahasia hidup akan kautemukan di
titik nol perjalananmu. Perjalanan panjangmu tidak akan mengantarkanmu ke ujung
jalan, justru akan membawamu kembali ke titik permulaan. (hlm. 372)
“Pada dasarnya semua orang mendapatkan hidayah itu.
Pada satu titik dalam kehidupannya, setiap manusia di dunia pada dasarnya
pernah berpikir tentang siapakah dirinya, mengapa dan untuk apa dia hidup, dan
adakah kekuatan di atas kekuatan hidupnya. Hanya saja ada yang kemudian mencari
dan menelisik, ada pula yang membuangnya jauh-jauh atau melupakannya. Yang
mencari pun ada yang caranya salah dan keliru…” (hlm. 119)
“Buatku rukun Islam itu ada 6. Yang keenam menjaga
kehormatanku dengan jilbab.” (hlm. 131)
Menyesal sekali kenapa baru membaca bukunya
sekarang.Terlebih buku yang saya baca ini sudah memasuki cetakan ke sepuluh. Dikatakan
di covernya bahwa buku ini merupakan novel Islami, bukannya cocok disebut
memoar ya karena ini isinya kisah nyata perjalanan penulisnya? Jenis fontnya
sebenarnya sudah nyaman, tapi mengapa tulisannya tidak rata kiri kanan ya?
Terlepas dari itu, sangat menyukai buku ini. Apalagi
cukup lama nggak baca buku bernapaskan agama. Ah, jadi gak sabar pengen baca
seri berikutnya; Berjalan di Atas Cahaya – Kisah 99 Cahaya di Langit
Eropa.
Keterangan Buku:


0 komentar:
Posting Komentar